Global Warning of Global Warming from Bali

Pernyataan tersebut sekilas seperti permainan kata-kata yang indah. Namun dampaknya dirasakan seluruh penghuni Bumi ini. Padahal dulu saya tidak perduli dengan kata-kata itu yang sudah saya baca di majalah Scientiae edisi Indonesia yang saya baca waktu kelas 6 SD. Gambar-gambar dan tulisannya sangat berkesan sampai saat ini. Apalagi waktu itu ada juga tulisan adanya sinyalemen perang cuaca antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Saat itu sampai beberapa tahun terakhir, istilah global warming belum menjadi global warning sehingga kita di Indonesia ga perlu ikut-ikutan komentar karena gak kena efeknya. hehehe.....
.
Tapi lambat laun, saya makin sadar. Terlebih waktu banjir besar di Jakarta bulan Februari 2007 lalu dimana saya sempat terjebak banjir di daerah Puri Kembangan. Apalagi makin banyak daerah di Jakarta yang dulu gak pernah banjir sekarang jadi banjir. Sepertinya musuh sudah di depan pintu. Hehehe. Untungnya, tempat tinggal saya di daerah Kayumanis belum pernah kebanjiran. Mudah-mudahan tetap begitu.
.
Dampak pemanasan global itu (global warming) di antaranya, terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan.
.
Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flora dan fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan karang seluas 30 persen atau sebanyak 90-95 persen karang mati di Kepulauan Seribu akibat naiknya suhu air laut.
.
Pemanasan global juga memicu meningkatnya kasus penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. setiap tahunnya di Indonesia semakin banyak pasien penderita penyakit ini.
.
Juga kekeringan di daerah Gunung Kidul misalnya, mungkin saja sudah menjadi fakta jamak yang berlangsung setiap tahun dan sudah sejak puluhan tahun hal itu terjadi. Akan tetapi, kesulitan air yang dialami oleh warga di lereng Gunung Merapi lima tahun terakhir ini misalnya, tentu sebuah fakta baru yang menunjukkan betapa air makin sulit didapat.
.
Kesulitan para petani sayuran di lereng Gunung Merbabu misalnya, juga sesuatu yang masih terdengar asing. Grojogan Sewu memang masih menumpahkan airnya. Tetapi dibandingkan lima belas tahun silam misalnya, grojogan itu sekarang telah berubah menjadi tak lebih dari pancuran. Beberapa puluh tahun yang akan datang, boleh jadi ia tinggal menjadi tetesan saja.
.
Itu baru dari sisi kelangkaan air. Dari sisi perubahan iklim, semua kota dan wilayah di Indonesia menjadi korbannya. Di Jawa bagian tengah misalnya, Kaliurang di Jogjakarta, Tawangmangu di Karanganyar, atau Bandungan di Semarang, sekarang bukan lagi didatangi wisatawan karena udaranya yang sejuk dan dingin, tetapi karena kelatahan dan cap yang terlanjut melekat sebagai daerah wisata. Itu saja. Dahulu, di daerah-daerah tersebut kabut dingin senantiasa turun setiap pagi sepanjang tahun. Sekarang, ia hanya bisa dijumpai beberapa kali sepanjang tahun, itupun sangat tergantung dari musim.
.
Di Puncak Jaya, Papua, salju tidak lagi hinggap di puncaknya sejak beberapa tahun silam. Ini menandai era berakhirnya eksistensi satu-satunya kawasan bersalju di Indonesia. Dan ini sekaligus membuktikan, bahwa bumi yang makin panas bukanlah fakta gombal melainkan kenyataan aktual.
.
Makanya saya kaget juga waktu tahu Indonesia menjadi tuan rumah konferensi pembahasan iklim yg akan di bahas Dunia Internasional, (pembicaraan tentang pemanasan global yang digelar UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) badan PBB tentang perubahan iklim dunia-, desember 2007 di Bali. Hebat juga. Apalagi Al Gore sampai ikut berpidato disitu. Dan sempat ada deadlock dengan utusan dari Amerika Serikat. Sungguh acara yang berbobot dan bernilai politik tinggi.
.
Konferensi ini dipandang sangat penting bagi seluruh Dunia, dan tentu saja menjadi ajang bagi para pemimpin dunia utk menentukan sikap dlm menahan laju perubahan iklim. Konon, forum Bali inipun yg dianggap sebagai bahan dasar untuk menggantikan kesepakatan Kyoto. (th 2012).
.
Saya tidak perduli apakah dalam soal ini Negara kita menggunakan momentum politik (yang pas banget menurut saya) atau menggunakan momen “Selagi”, karena kita yang menjadi tuan rumah di Bali. Yang penting Negeri ini harus mampu menggeliat dan kembali perkasa dalam soal hutan2-nya, baik yg di darat maupun yg di laut.
.
Hutan dan Terumbu karang nan indah memang telah banyak rusak. tapi apa salahnya kita mencoba mempertahankan yg ada dan memperbaiki yg telah rusak ?
.
Pemerintah Indonesia sendiri telah menanam 79 juta pohon, yang telah dilaksanakan pada akhir November 2007 lalu di sekitar 79.000 lokasi, termasuk kantor saya dapat jatah tanam pohon tuh, untuk menekan tingkat kerusakan hutan di Indonesia. Namun kalo saya perhatikan sepertinya tergesa-gesa, karena tak ada record mengenai keinginan baik pemerintah mengenai perbaikan-perbaikan lingkungan, kok tiba-tiba menggebu-gebu acara tanam pohon. Apakah ada hubungannya dengan menjelang konperensi Bali ? However, it's better the late than never. hehehe.
.
Trus, mmmm… apa itu akan bisa menekan kerusakan2 hutan ? Tetapi kayaknya cap “Pengrusak hutan terparah”-pun tak akan bisa dihilangkan oleh gerakan2 semacam itu.
.
So, apa yg kita perlukan ? Dana ? atau menanam pepohonan yg sekali-sekali itu ?
.
Yang kita perlukan adalah Hukum dan Tindakan tegas atas pembalakan2 liar itu sendiri oleh Industri2 kayu, reboisasi berkala dari seluruh departemen2, reboisasi yg benar dilaksanakan mutlak dari setiap pemegang HPH, dihentikannya perkebunan2 kelapa sawit yg semakin merangsek hutan yg ada, penyuluhan2 terhadap masyarakat sekitar hutan, Dll, sampai penanganan yang khusus mengenai kebakaran2 hutan…
.
Pokoknya semua, yg bisa melepaskan kita dari tertuduh penyumbang emiter karbon urutan ke 3 di Dunia (Wetland Internatonal, sebuah LSM Internasional) dan penyumbang asap terbesar ke Malaysia (hehehe) atau tuduhan2 parah seperti Jeritan Mayday Negara Indonesia.
.
Suasana Konferensi
.
Semua itu sempat menjadi ganjalan dlm Konferensi Bali. Untungnya Indonesia sebagai tuan rumahnya tdk jadi bulan2-an. So, teruslah perbaiki dan bekerja dgn benar dan lebih giat lagi, termasuk isu tentang hukum. (contoh memalukan : Kejaksaan menolak 14 kasus pembalakan liar dari 17 kasus yang diajukan oleh Kepolisian Daerah Riau. padahal kita semuanya tahu parahnya kasus2 hutan di riau, hutan yg diperkirakan akan habis 10 tahun mendatang, atau bisa lebih cepat).
.
Sebab dan Dampak Pemanasan Global
.
Kalo dilihat dari aspek global, kita juga bisa mulai dari yang jauh dengan kita, Laut Arktik. Lautan ini sebagian besar dikenali sebagai samudera es. Ilmuwan yang mengamati perubahan pada lautan es ini mencatat terjadinya peningkatan panas dua kali lebih cepat dibandingkan pemanasan di tingkat global. Sejak tahun 1980, samudera es yang terletak Arktik yang berada di wilayah Eropa telah mencair antara 20-30 persen.
.
Masih di Eropa, pegunungan Alpens yang tadinya sebagian besar diselubungi salju mengalami kemerosotan deposit salju yang parah. Delapan dari sembilan area gletser/glacier menunjukkan derajat kerusakan yang signifikan dan dalam kurun waktu satu abad sudah kehilangan sepertiga dari wilayah es.
.
.
Tidak hanya di Eropa, seluruh dataran tinggi di dunia yang selama ini dikenal memiliki puncak gunung es juga lumer. Salju di puncak gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro, setiap bulannya meleleh tak kurang dari 300 meter kubik. Gunung yang terletak di Tanzania ini menderita kebotakan salju parah bilamana membandingkan foto udara yang diambil pada tahun 1974, 1990, dan 2001. Dalam periode satu abad pengamatan, salju di puncak gunung itu meleleh hingga mencapai 82%. Bila salju tak lagi betah hinggap di puncak gunung itu, nama gunung itu boleh jadi harus diubah, karena Kilimanjaro dalam bahasa setempat berarti gunung yang putih atau gunung yang bercahaya.
.
Mari beralih ke kawasan yang melahirkan banyak seniman bola, Amerika Selatan. Salju di negeri-negeri seperti berdataran tinggi seperti Argentina, Peru, Chili juga menurun drastis. Pegunungan Andes, salah satu surga salju di dunia, mengalami pelelehan salju ke arah puncak gunung yang sangat signifikan. Antara tahun 1963 hingga 1978, salju mencair rata-rata 4 meter per tahun, dan sejak tahun 1995 hingga sekarang, pelelehan salju mencapai kecepatan 30,1 meter per tahun di seluruh kawasan yang mengandung glacier. Sementara di Venezuela, negeri penghasil Miss World terbanyak, dari 6 glacier yang dimiliki negeri tersebut pada tahun 1972, kini hanya tersisa dua lagi, dan akan hilang paling lambat 10 tahun sejak sekarang.
.
Konsekuensi dari melelehnya salju adalah meningkatnya permukaan air laut, pertama-tama di kawasan tersebut. Di negeri bola Brasil, garis pantai yang hilang menjadi lautan rata-rata berkisar 1,8 meter per tahun pada kurun waktu antara 1915 hingga 1950 dan meningkat menjadi 2,4 meter per tahun pada kurun waktu sepuluh tahun antara 1985-1995.
.
Apa yang terjadi di Asia, juga di Indonesia, akibat pemanasan global? Sama dengan yang terjadi di benua lain, salju-salju di dataran tinggi Asia mengalami pelelehan yang drastis sekaligus dramatis. Himalaya, gunung tertinggi di dunia yang menjadi kantong air beku di “atap langit” terus kehilangan saljunya secara konsisten. Glacier-glacier di Pegunungan Himalaya yang tersebar di negara-negara seperti India, Tibet, Bhutan, China, terdegradasi dengan amat cepat. Tujuh sungai besar di Asia yang bermata air dari Himalaya yakni Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning terancam eksistensinya yang berakibat pada ratusan juta umat manusia di kawasan sepanjang aliran sungai-sungai itu.
.
Tak hanya di kawasan Asia Selatan, salju di Asia Tengah yang juga terus lenyap satu per satu. Itu terjadi pula di Puncak Jaya, Papua, satu-satunya daerah pegunungan tinggi di Indonesia yang memiliki salju. Bila foto udara pada tahun 1972 memperlihatkan puncak gunung yang hampir seluruhnya diselimuti salju, sekarang puncak gunung itu hanyalah berisi bebatuan dan pepohonan belaka. Artinya, tidak ada lagi salju di sana.
.
Pelelehan es yang diungkap di atas baru merupakan sebagian dari yang sebenarnya terjadi. Berdasarkan laporan terakhir Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terakhir yang dirilis tahun 2007 ini, 30 salju di pegunungan di seluruh dunia kehilangan ketebalan hingga lebih dari setengah meter hingga tahun 2005 saja. Dua tahun yang terakhir belum masuk dalam laporan tersebut.
.
Karena energi bersifat kekal, salju-salju tadi dengan sendirinya tidak hilang dan hanya berubah bentuk. Ibarat es yang ada dalam sebuah gelas, ketika ia terkena panas dan mencair, volume air itu tidak berkurang atau bertambah, melainkan hanya berubah. Maka, konsekuensi pertama dari meningkatnya suhu bumi yang melelehkan salju dan deposit-deposit air tadi adalah kian bertambahnya air di permukaan bumi. Peningkatan tersebut dapat dideteksi di seluruh penjuru bumi dan dibuktikan melalui sejumlah foto udara yang membandingkan suatu kawasan pada puluhan tahun silam dengan kondisi kontemporer.
.
.
Namun, konsekuensi meningkatnya suhu bumi tidaklah sesederhana itu. Perubahan-perubahan ekologis yang terjadi pada lingkungan di mana manusia dan makhluk hidup lainnya hidup membawa dampak yang mengerikan bagi umat manusia. Hukum fisika menyatakan, angin bergerak dari tempat yang dingin ke tempat yang lebih panas. Nah, perbedaan temperatur suatu kawasan dengan kawasan lain yang sangat ekstrem pada waktu bersamaan telah memicu munculnya angin topan, badai, dan tornado menjadi lebih sering dibandingkan beberapa tahun silam. Negara-negara di kawasan Amerika Utara, Tengah, Selatan dan Karibia, Eropa, juga Asia Selatan dan Timur sudah merasakan dampak yang ditimbulkan dari topan badai ini. Topan yang memiliki nama-nama nan indah menerpa warga di seluruh bumi secara memilukan dan sekaligus mematikan.
.
Arus pergerakan air tidak hanya membawa musibah banjir bandang, tetapi juga disertai tanah longsor akibat penggundulan hutan yang berlangsung setiap menit. Dalam waktu bersamaan, belahan dunia yang satu terancam kekeringan dan kebakaran, tempat lainnya dilanda topan badai, banjir dan tanah longsor yang menyengsarakan ratusan juta umat manusia.
.
Ironisnya, dalam situasi udara yang makin panas, orang lalu mencari cara untuk mendinginkannya, tetapi hanya untuk diri mereka sendiri. Pendingin udara adalah pilihan pragmatis untuk ini, tetapi alat inipun hanya bisa dijangkau oleh lapisan masyarakat golongan menengah ke atas. Masyarakat miskin jelas tak bisa mengelak dari kegerahan.
.
Kipas buat yang kegerahan
.
Ironisnya juga, penggunaan pendingin udara yang makin masif dan intensif pada sebagian besar rumah tangga di perkotaan secara akumulatif justru mendorong terciptanya bumi yang makin panas akibat gas-gas yang dihasilkan oleh pendingin udara tersebut tidak ramah lingkungan. Sudah begitu, penggunaan pendingin udara yang intensif itu juga memicu meningkatnya kebutuhan listrik yang terus membesar –yang lagi-lagi ironisnya— sementara listrik tersebut diproduksi dengan menggunakan bahan bakar fosil yang tak ramah terhadap lingkungan dan memberi kontribusi terbesar pada pemanasan secara global.
.
Lingkaran setan ini jelas menggiring masyarakat yang paling miskin dan tak memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi yang memadai menjadi korban. Jumlah masyarakat yang kian tersisih dari lingkaran ini niscaya akan terus membesar karena perseteruan dan kata sepakat tentang upaya kongkret memerangi perubahan iklim ini mengalami kebuntuan yang akut.
.
Aksi Demonstran di luar Konferensi
.
Akhir kata, saya juga baca adanya pendapat yang mengatakan global warming adalah lebih bersifat alami daripada disebabkan manusia. Jadi katanya kita tidak bisa mencegah global warming, yang bisa dilakukan adalah mengantisipasinya. Kalo mau baca pandangan seperti itu silhkan klik: http://rovicky.wordpress.com/2007/12/15/global-warming-ngga-bisa-dicegah/.
.
Apapun itu, kita tetap mesti hati-hati agar kita jangan jadi korban global warming. hehehe.
.
Sumber : Wikimu, Gatra, dll.
.



.

by Sahat Parlindungan Simarmata - www.sahatsimarmata.com
.
Cetak halaman ini (Print this page) ....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Google Search Engine
Google