Chiesa di San Martino and Palazzo Doria Pamphilii


Memahami gereja cantik ini pusing juga. Soale semua literatur dan brosur yang ada di gereja itu semua berbahasa Italy. Menyesal rasanya waktu orang-orang Mensa Italy minta tolong bapak pastor yang bertidak sebagai tour guide yang bisa bahasa Inggris ke gereja ini aku ketinggalan di hotel. Aku sampai tiga kali datang ke gereja (termasuk waktu Misa Minggu) untuk belajar sejarahnya dan masuk ke perpustakaan yang semua buku dan brosur pakai bahasa Latin atau bahasa Italy. Mereka ngomongnya juga gitu. Gak ada yang bisa bahasa Inggris. Exciting sih, tapi menyebalkan juga.:) Bapak Pastor yang bisa bahasa Inggris itu ternyata sering ke kota Viterbo.....
.
Klo menurut brosur itu sih Gereja (Chiesa) di San Martino ini merupakan pengembangan dari sebuah biara yaitu Cistercian Abbey yang merupakan bangunan megah yang mendominasi Viterbese Tuscia, dan dibangun sekitar tahun 1150 oleh Cistercians dari Pontigny atau biasa disebut kaum Savoy. Tapi kemudian Chiesa (Gereja) dell'Abbazia Cistercense membalikkan arahnya pada abad 13 dengan bagian depan berjendela gothik besar. Jadi, arsitektur dasar gereja ini memang khas Viterbo yang didominasi kaum cistercian. Walaupun bangunan/istana yang disampingnya sangat berbeda style-nya.
.
Karena adanya kecenderungan tanah untuk bergeser ke bawah, maka pada tahun 1651 diadakanlah penguatan konstruksi bangunan dan diperlukan dua menara lonceng yang ditambahkan untuk mempertahankan posisi bangunan. Oh, itu toh fungsi menara lonceng gereja itu disitu. Hiasan rangka kaca gothik tersebut yang berbentuk Polygonal 2 baris tersebut bagus banget.
.
Pada tahun 1645, Paus Innosensius (Innocent) X menyumbangkan biara itu kepada iparnya, Donna Olympia Maidalchini Pamphilii, yang segera mulai membangun tempat tinggalnya, Palazzo Doria Pamphilii. Lantainya langsung diperindah dengan hiasan. Padahal gedung itu baru saja direnovasi, karena tadinya rumah itu merupakan tempat kongres.
.
.
Bersamaan dengan pembangunan istana, situasi tata-kota berubah: ada dua jalan baru yang mengarah ke Biara dan ke Istana. Yang jalan utama dengan deretan rumah-rumah kaum bangsawan, dan yang satunya miring dengan deretan rumah rakyat biasa, sehingga membentuk Barok Center, suatu bukti atas perencanaan tata-kota yang langka dari jaman itu.
.
Penduduk disini aku lihat masih kuat agamanya dan patuh banget sama Pastor. Ini aku perhatikan waktu ikut Misa Minggu di Chiesa San Martino ini. Ramai juga yang datang ke gereja. Memang sih, anak-anak ikut gabung juga. Cuma yang aku perhatikan laki-laki muda gak begitu banyak yang datang misa. Kalo wanita banyak banget yang datang misa.
.
Pas mulai misa juga ada prosesi keliling di dalam gereja. Jadi semua pelayan dan petugas beserta pastor sebelum ke altar mereka mengelilingi jemaat terlebih dahulu. Unik juga. Aku blum pernah menyaksikan yang kayak gini di Indonesia, terutama waktu sekolah dulu. Soale aku sekolah dari TK s.d. SMA di Sekolah Xaverius Palembang yang kadang-kadang aku ikut misa ekaristi.
.
Trus, semua lagu dan kotbah dalam bahasa Latin. Untuknya ada lembaran liturgi (tata ibadah) dikasih ke aku. Jadi aku bisa ngikutin walau sambil menebak-nebak artinya. Menurutku sih ibadahnya kurang hidup. Memang khusuk sih, malah khusus banget malah.:)
.
.

by Sahat Parlindungan Simarmata - www.sahatsimarmata.com
.
Cetak halaman ini (Print this page) ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google Search Engine
Google