Monumen Guru Patimpus, Pendiri Kota Medan

Aku agak heran dengan Monumen atau Tugu Guru Patimpus ini. Mengingat begitu besar jasa Guru Patimpus membuka Kota Medan, maka aku merasa Monumen Guru Patimpus itu masih terlau kecil. Semestinya minimal setinggi ruko-ruko berlantai tiga di kawasan Petisah itu. Tidak jauh dari Balai Kota Medan. Bahkan saya heran lagi, ternyata monumen itu hasil swadaya masyarakat terutama masyarakat Batak Karo, bukan proyek Pemerintah Kota Medan. Walaupun begitu, Monumen Guru Patimpus ini diresmikan 23 Maret 2005 oleh Gubernur Sumatra Utara waktu itu, Tengku Rizal Nurdin (alm.), bukan oleh Walikota Medan.....
.
Namun demikian, Pemerintah Kota Medan telah memberikan penghargaan kepada Guru Patimpus dengan ditetapkannya Hari Jadi Kota Medan pada 1 Juli 1590, kemudian ditabalkan nama pada satu jalan di Petisah dengan nama Jalan Guru Patimpus.
.
Guru Patimpus masih terhitung sebagai salah seorang cucu Raja Sisingamangaraja I melalui ayahnya Tuan Si Raja Hita. Abang ayahnya-lah Raja Sisingamangaraja II. Dia memiliki nama lengkap Guru Patimpus Sembiring Pelawi (lahir di Aji Jahe, salah satu kampung di Tanah Karo Simalem yang dingin, sejuk, nyaman, dengan angin pegunungannya, hidup sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17). Yap, Guru Patimpus berasal dari dataran tinggi karo. Seorang Batak Karo.
.
Walaupun di beberapa tulisan disebut dia bermarga Sinambela (karena masih keturunan Sisingamangaraja yang bermarga Sinambela), namun resminya dia diakui sebagai marga Sembiring. Mungkin Sinambela di Karo masuk kelompok marga Sembiring. Guru Patimpus Sembiring Pelawi memang adalah orang yang dikenal sebagai pendiri kota Medan, ibukota Propinsi Sumatra Utara, Indonesia, yang berkembang dari sebuah kampung bernama Kampung Medan Putri yang berdiri 1 Juli 1590.
.
.
Guru Patimpus bertubuh kekar, tinggi, gagah dan berjiwa patriotik seperti seorang panglima. Dalam bahasa Batak Karo, kata "Guru" berarti "Tabib" ataupun "Orang Pintar". Ia seorang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan, ilmu obat-obatan, ilmu gaib dan memiliki kesaktian namun ia berjiwa penuh kemanusiaan, lemah-lembut dalam bertutur kata, mempunyai karakteristik yang simpatik, berwibawa, berjiwa besar dan pemberani. Dengan menuruni lembah, melewati hutan dan binatang buas, ia mendaki tebing-tebing yang tinggi, terjal dan curam, dengan menelusuri aliran Lau Petani, menuju ke satu bandar di hilir Sungai Deli.
.
Kemudian kata "Pa" merupakan sebutan untuk seorang Bapak berdasarkan sifat atau keadaan seseorang. Sedangkan kata "Timpus" berarti bundelan, bungkus, atau balut. Dengan demikian, maka nama Guru Patimpus bermakna sebagai seorang Tabib yang memiliki kebiasaan membungkus sesuatu dalam kain yang diselempangkan di badan untuk membawa barang bawaannya. Hal ini dapat diperhatikan pada Monumen Guru Patimpus tersebut.
.
Guru Patimpus menikah dengan seorang putri Raja Pulo Brayan, keturunan anak Panglima Deli bermarga Tarigan, dan mempunyai dua anak lelaki, masing-masing bernama Kolok dan Kecik. Sebelumnya dia telah menikah di Batu Karang dengan Br Bangun mendirikan kampung di Perbaji dan mempunyai anak laki-laki bernama Bagelit.
.
Setelah menikah dengan seorang putri Raja Pulo Brayan itu, mereka lalu membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan. Tanggal kejadian ini biasanya disebut sebagai 1 Juli 1590, yang kini diperingati sebagai hari jadi kota Medan.
.
.

by Sahat Parlindungan Simarmata - www.sahatsimarmata.com
.
Cetak halaman ini (Print this page) ....

4 komentar:

  1. sangat baik dan menarik ku terus mendukung keberadaan sejarah ini dan yg ku inginkan adalah bagaimna orang memikirkan jasa2 pak guru patimpus ini agar medan memiliki kota sejarah yg menarik agar medan yg sebuah desa hingga sekarang menjadi metropolitan semakin menarik menjadi tujuan wisata lokal dan mancanegara medan gak usang di makan zaman untuk monunem semoga di renovasi dan di perbaiki klo bisa di perbesar hingga 5 lantai dan memiliki musium medan yg megah

    BalasHapus
  2. Horas, buat Bung Sahat Simarmata.
    Hormat saya pula buat Lae-Lae dari Karo yang MAU RUGI berswadaya membangun Guru Patimpus.Ada dua hal saya ungkapkan:
    1. Prihatin dengan sikap Pemkot Medan/Pemprov yg tak peduli...penyebabnya mungkin sudah TERLALU BANYAK orang non Batak di jajaran Pemdasu!
    2.Sedikit ralat saya Lae. Guru Patimpus lahir bukan di Tanah Karo, tapi di BAKERAH (Bakkara) dengan "Timpus", asli keturunan Toba (Si Singamangaraja),yang, tentu saja bermarga Sinambela!
    Lebih jauh data ada di Blog saya: http://bataica.blospot.com
    Demikian Lae.
    Horas.

    BalasHapus
  3. jhon hutauruc
    .................
    ...................
    lae luhut raja gukguk,jangan lagi si politisasikan lagi GURU PATIMPUS, seharusnya kita berbangga kalau sodara serumpun kita yg pemilik kota medan...seharusnya kita m,iris kenapa kalak karo kita bantu supaya dapat porsi yg lebih di pemerintahan kota medan.......sudah banyak pendatang dan jawa2 trans ke sumut sehingga kita menjadi minor.......ini seharusnya kita bahas......kalaupun betul SANG GURU ketrunan raja sisingamangara,tapi kita harus hargai GURU PATIMPUS yg sudah bermarga SEMBIRING PELAWI....saya kurang senang dengan pemaksaan ini......saya toba berdarah karo.............haruskah ini membuat kita angkat senjata???apa pernah orang karo mengusir halak toba dari MEDAN???? disini saya sangat prihatin dengan kejasian ini....seharusnya kita bahu membahu membuat walikota medan harus orang KARO,selama ini kan hanya mandailing???atau melayu karna kita sudah menjadi minor................kepingin rasanya saya mengajak kalak KARO tuk ber orasi meminta porsi di pemerintahan kota medan.........minimal 50%.lihatlah jangankan toba,karo pun sipemilik medan di singkirkan..................mejuahjuah kita krina.

    BalasHapus
  4. seharusnya kita harus bersatu tuk medan......kita minta di pemerintahan di bagi porsinya sesuai suku2 yg ada.........12%tiap suku supaya tak merasa di singkirkan.toba,simalungun,angkola,mandailing,karo,pakpak dan suku pendatang...............

    BalasHapus

Google Search Engine
Google